Apakah Anda Ibu Yang Kompetitif? Cek Disini

Salah satu harapan yang selalu dimiliki seorang Ibu adalah ingin melihat anak-anaknya menjadi yang paling unggul. Namun, bagaimana jika karakter yang dimiliki seorang ibu ini justru membuat si anak menjadi tertekan? Hal ini karena Ibu selalu “memaksa” anak untuk terus menjadi yang paling menonjol diantara teman-temannya.

Memang, tugas orangtua adalah mendukung anak mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Sehingga tak jarang orangtua, khususnya Ibu menjadi sangat kompetitif.

Ibu yang kompetitif ini biasanya terus membandingkan anak dengan anak-anak lainnya. Mulai dari membandingkan nilai mata pelajaran anak dengan teman-temannya, hingga membandingkan prestasi sekolah anak dengan teman-temannya yang lain.

Kondisi seperti ini tentu bisa membuat anak menjadi depresi. Salah-salah, bukannya membuat anak menjadi menonjol dan sukses, namun bisa memicu anak melakukan hal-hal buruk terhadap dirinya sendiri. Misalnya saja bunuh diri karena depresi.

Untuk menghindarkan anak tertekan dan depresi karena memiliki Ibu yang kompetitif, sebaiknya hindari beberapa sikap yang menjurus pada perilaku kompetitif seorang Ibu. Apa sajakah Itu?

Ciri Perilaku Ibu yang Kompetitif:

  • Tidak Bisa Menerima Kenyataan Bahwa Anak “Kalah”

Salah satu ciri utama perilaku Ibu kompetitif adalah tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya “kalah” dalam hal apapun. Misalnya saat si anak mengikuti lomba matematika dan sama sekali tidak memperoleh juara, maka Anda akan menyalahkan semua orang, termasuk anak. Kondisi seperti ini tentu akan membuat anak menjadi merasa bersalah dan minder.

Anak mungkin merasa bahwa apa saja yang telah diperjuangkannya selalu tidak benar di mata Ibunya. Bahkan ketika anak berusaha terus menerus berlatih untuk lomba matematika tersebut. Perasaan bersalah dan minder ini lama kelamaan bisa berubah menjadi perasaan tertekan dan depresi yang pada akhirnya bisa mendorong anak melakukan hal buruk.

  • Kemenangan adalah Tujuan Hidup

Bagi Ibu kompetitif, kemenangan adalah tujuan hidupnya. Ibu kompetitif biasanya tidak menghargai usaha yang telah dilakukan oleh anak. Satu-satunya yang dipikirkan Ibu tersebut hanyalah kemenangan. Jadi, jika si anak sudah berusaha dengan keras, namun belum bisa menjadi juara pada salah satu perlombaan yang sedang diikuti, maka Ibu kompetitif akan sangat kecewa padanya.

Ibu kompetitif bahkan merasa bahwa penghargaan, serta pujian dari orang lain adalah yang paling utama. Dan, menurutnya satu-satunya jalan memperoleh penghargaan dan pujian hanyalah lewat “kemenangan”.

  • Pilihan Hidup Hanya 2, Terbaik atau Terburuk

Ibu kompetitif selalu memberikan pilihan pada anak-anaknya, yaitu menjadi yang terbaik atau menjadi yang terburuk. Baginya, tidak ada nilai tengah, tidak ada penghargaan atau usaha keras. Satu-satunya yang menjadi sorotan hidup Ibu kompetitif adalah hasil yang diperoleh oleh anak-anak.

Misalnya nilai anak per mata pelajaran. Ibu kompetitif merasa bahwa nilai anak adalah satu-satunya bukti dari kecerdasannya. Ibu tersebut akan memeriksa setiap nilai anak, baik nilai harian per mata pelajaran, nilai dari tes akhir semester, hingga kuis-kuis per mata pelajaran yang diberikan oleh guru. Ibu kompetitif akan memastikan anak tidak mendapatkan nilai buruk dari masing-masing mata pelajaran tersebut.

  • Melakukan Berbagai Macam Cara Agar Anak Menang

Seorang Ibu yang kompetitif tidak akan membiarkan anaknya kalah dalam hal apapun. Sehingga, seringkali Ibu kompetitif melakukan berbagai macam cara agar anaknya menang.  Misalnya, dengan menyembunyikan ide kreasi kerajinan tangan dari Ibu-Ibu anak lain. Tujuannya agar anak lainnya tidak membuat kerajinan yang sama, sehingga anaknya lah yang menjadi paling menonjol diantara anak-anak yang lain.

  • Terus Membandingkan Anak dengan Teman-Temannya

Ciri Ibu kompetitif lainnya adalah terus menerus membandingkan anak dengan teman-teman sebayanya. Bahkan tak jarang nih, Ibu kompetitif membandingkan anaknya di depan Ibu-Ibu lain. Misalnya mengatakan bahwa anaknya mendapat juara dalam berbagai macam perlombaan, atau anaknya sudah menguasai beberapa bahasa asing.

Tak hanya itu, banyak hal sederhana yang juga dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Misalnya tentang tinggi badan anak yang melebihi tinggi badan teman-temannya, atau kesehatan anak yang lebih baik dari teman-temannya.

  • Kecewa Saat Anak Juara Kedua Bukan Pertama

Bagi Ibu kompetitif kesempurnaan adalah segalanya. Ia bahkan akan sangat kecewa jika anak hanya mendapat juara kedua alih-alih juara pertama. Baginya, anak-anak harus berada pada level yang paling menonjol diantara teman-temannya. Artinya, tidak boleh ada teman lain yang berada di atas levelnya.

  • Berbohong Bahwa Anak Telah Meraih Sesuatu

Ciri Ibu kompetitif lainnya adalah rela berbohong kepada orang lain bahwa anaknya telah meraih atau mencapai sesuatu. Biasanya hal ini dilakukan Ibu kompetitif agar anaknya mendapat sesuatu yang lebih. Misalnya saat anak harus mendapatkan peran utama dalam drama sekolah. Ibu kompetitif mungkin saja akan berbohong pada guru bahwa anaknya sudah pernah belajar akting dari sutradara kawakan.

  • Mendorong Anak Bersikap Kompetitif

Dari sekian banyak ciri perilaku Ibu kompetitif, yang cukup sering dilakukan adalah mendorong anak untuk memiliki perilaku kompetitif yang sama dengannya. Cara yang paling mudah dilakukan adalah dengan selalu membacakan buku cerita dari tokoh-tokoh inspiratif tanpa mengenal apakah usia anak sesuai untuk dibacakan buku dengan tema tersebut atau tidak.

  • Terobsesi dengan Perkembangan Anak

Seorang Ibu kompetitif akan sangat terobsesi dengan perkembangan anak-anaknya. Tak jarang Ibu kompetitif membeli segala mainan edukatif yang membantu anak-anak  meningkatkan segala kemampuan kognitifnya. Ibu kompetitif mungkin akan memeriksa perkembangan buah hatinya setiap saat dengan cara membandingkannya dengan anak-anak lain. Padahal setiap anak memiliki masa perkembangan yang berbeda-beda. Anda anak yang lebih cepat berbicara daripada berjalan, namun ada juga yang sebaliknya.

  • Kecewa Jika Anak Tidak Bertindak Seperti yang Diinginkan

Ibu kompetitif akan sangat kecewa jika anak tidak bertindak sesuai yang diinginkan. Ibu tersebut mungkin saja akan bereaksi berlebihan seperti marah, atau justru mendiamkan anak. Padahal apa yang diinginkan Ibu sebenarnya sudah dilakukan anak, akan tetapi dengan cara yang berbeda. Kondisi seperti ini kadang membuat Ibu kompetitif merasa tidak bisa menjadi Ibu yang baik bagi anak-anak.

Menjadi Ibu kompetitif memang sering tidak disadari oleh para Ibu, karena Ibu hanya ingin anak-anak menjadi sukses di kemudian hari. Meskipun dengan cara menjadikan “kemenangan” sebagai tujuan hidup. Pada akhirnya, Ibu yang kompetitif ini justru memberikan tekanan pada anak.

Untuk menghindari hal tersebut, sebaiknya refleksikan diri sendiri. Apakah Anda salah satu Ibu yang kompetitif? Beberapa ciri perilaku kompetitif di atas bisa digunakan sebagai referensi.

Sumber: School of Parenting